Skip to main content

Ayah Ibu, Bacalah Surat Cintaku Ini Yang Kutujukan Kepadamu!


Illustrasi gambar sebuah keluarga bahagia
Ayah, Ibu, tolong jangan risaukan apa yang belum dapat kulakukan, tetapi lihatlah apa yang sudah dapat kulakukan. Lihatlah lebih banyak kelebihanku.
Ayah, Ibu, aku memang banyak kekurangan, tetapi aku juga punya kelebihan, bantu aku, agar kelak kelebihanku bisa berguna bagi sesama. Didiklah aku berulang-ulang, karena kalian juga pernah menjadi anak-anak sepertiku. Jangan kalian lakukan kepadaku, apa yang dulu pernah kakek nenek dulu lakukan yang pernah menyakiti hati kalian.
Ayah, Ibu, jangan bosan dengan pertanyaan-pertanyaanku. Lihatlah besarnya rasa ingin tahuku. Jangan kalian abaikan pertanyaanku dan menyuruhku untuk diam. Sebab dengan cara itulah aku belajar.
Ayah, Ibu, jangan keluhkan aku tidak bisa diam. Lihatlah energiku ini, bukankah energiku ini kelak untuk diriku dapat mencapai cita-citaku? Cukuplah kalian fokus untuk melihat kelebihanku, berjuang bersamaku, dan tak pernah putus mendoakanku, hingga kelak berkat kalianlah aku bisa mengagumkan nama keluarga kita.
Ayah, Ibu, janganlah membentakku, agar jangan sampai "tawar" hatiku. Janganlah membicarakan semua kekuranganku pada teman-temanmu. Karena kuyakin, kalian sendiri pun tidak suka diperlakukan demikian.
Ayah, Ibu, sabarlah terhadap semua sikapku. Aku belum hidup cukup lama seperti kalian. Bukankah kalian hidup lebih dulu dari padaku? Sehingga kalian yang lebih dulu mengerti akan pahit dan manisnya kehidupan. Dan bolehlah jika kukatakan bahwa aku belum mengenal kehidupan, dan butuh bantuan kalian, agar kalian bisa mengajarkanku bahwa hidup yang akan kujalani ini indah.
Ayah, Ibu, bermainlah bersamaku. Jangan kau berikan handphone padaku hanya agar aku diam dan kau bisa beristirahat. Aku hanya ingin memiliki sebanyak mungkin kenangan indah bersama kalian.
Illustrasi gambar ibu yang sedang mengancam anaknya.
Ayah, Ibu, jangan ancam aku, seperti engkau juga tidak suka diancam orang lain. Lihatlah, aku sedang belajar untuk memahami keinginanmu. Sabarlah terhadapku, karena aku sangat menyayangi kalian, aku akan berusaha untuk belajar memenuhi yang kalian inginkan.
Ayah, Ibu, jangan kau bandingkan aku dengan anak lain. Lihatlah, aku tidak pernah membandingkanmu dengan orang tua lain. Aku hanya satu, dan posisi kalian tidak pernah tergantikan di hatiku.
Ayah, Ibu, aku memang belum bisa berhitung, tetapi lihatlah, aku bisa bernyanyi dan selalu tersenyum ceria melihatmu.
Illustrasi gambar anak yang menyayangi orang tuanya
Ayah, Ibu, aku memang belum dapat membaca. Tetapi lihatlah, aku dapat bercerita. Aku dapat membuatmu tersenyum karena kepolosanku. Janganlah karena rasa gengsi terhadap teman-temanmu, kau banyak ikutkan aku les hanya demi untuk memuaskan nafsu dan gengsi tidak mau kalahmu.
Ayah, Ibu, aku memang kurang mengerti matematika dan pelajaran di sekolah. Tetapi, lihatlah, aku suka berdoa, dan aku senang sekali mendoakan yang terbaik untukmu.
Ayah, Ibu, jangan lihat nilaiku yang rata-rata. Lihatlah, aku sudah berusaha, meski kalian hanya sering memerintah dan menyuruhku belajar tanpa menemaniku, dikarenakan kesibukan kalian dengan handphone dan pekerjaan di kantor. Namun lihatlah, aku mengerjakannya dengan jujur.
Ayah, Ibu, aku lelah dengan semua tuntutan kalian...
Illustrasi gambar ibu yang sedang memaksa anaknya
Ayah, Ibu, bantulah aku untuk mengenal Allah yang menciptakanku. Aku perlu tahu dari mana diriku berasal, dan mengapa aku harus menjadi anak yang takut akan Allah. Jangan pernah kalian bosan-bosan menceritakan tentang Allah padaku.
Ayah, Ibu, semoga kita punya cukup waktu untuk saling mengenal dan memahami, karena aku belajar melihatmu dari cara engkau melihatku. Aku bersyukur bisa memiliki kalian dalam hidupku.
Ayah, Ibu, aku sangat menyayangi kalian.

Dari yang mencintai kalian,
-Anakmu-

* Jadilah orang tua yang kelak akan dibanggakan anakmu, bukan sebaliknya. Ingatlah bahwa anakmu adalah "pusaka" dari Allah, sehingga tugasmulah untuk membina dan mendidiknya. Hingga nanti di akhirat kau bisa dengan bangga berkata pada Allah, bahwa kau sudah merawat "pusaka" ini sesuai dengan kehendak yang Allah inginkan.

Sumber cerita inspirasi : Buku @Anak Juga Manusia dengan modifikasi cerita dari penulis

Comments

Popular posts from this blog

Lepaskanlah Ini Agar Hidupmu Menjadi Damai!

(Play lagu di atas sebelum mulai membaca) Illustrasi suami yang memukul isterinya Tahun 1971, surat kabar *New York Post* menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya. Suatu malam, sang suami memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar di New York.  Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu bergegas naik bus menuju ke utara, ke kehidupan yang baru. Bersama beberapa temannya, dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Seks, judi, mabuk-mabukan, dia menikmati semuanya. Bulan berlalu, tahun berlalu. Bisnisnya gagal dan dia mulai kekurangan uang. Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Naas, suatu h